Rabu, 01 Juli 2026

Lebih dari Sekadar Foto: Mengapa Perjalanan Sejarah ke Mesir dan Turki Dapat Mengubah Cara Pandang Hidup?

 


"Perjalanan yang paling berharga bukanlah perjalanan yang membawa kita ke tempat baru, melainkan perjalanan yang melahirkan cara pandang baru."

Kalimat itu semakin saya yakini setelah bertahun-tahun tinggal di Mesir. Sebagai mahasiswa Universitas Al-Azhar, saya datang ke negeri ini dengan tujuan utama menuntut ilmu. Namun seiring waktu, saya menyadari bahwa pelajaran terbesar tidak hanya saya temukan di ruang kuliah, tetapi juga di jalanan Kairo, lorong-lorong kota tua, museum, benteng, masjid, hingga gurun yang membentang di luar ibu kota.

Beberapa tahun terakhir, saya juga dipercaya menjadi tour guide dan tour leader untuk berbagai rombongan dari Indonesia yang ingin mengenal Mesir dan Turki lebih dekat. Dari sanalah saya melihat sesuatu yang menarik: hampir setiap perjalanan selalu mengubah seseorang.

Di hari pertama, sebagian besar peserta datang dengan daftar keinginan yang sederhana. Mereka ingin melihat Piramida Giza secara langsung, berfoto di depan Sphinx, menikmati Sungai Nil, atau mengunjungi Hagia Sophia yang selama ini hanya mereka lihat di buku dan media sosial.

Namun menjelang perjalanan berakhir, pertanyaan mereka berubah.

Bukan lagi, "Spot foto terbaik di mana?"

Melainkan,

"Mengapa sebuah peradaban sebesar ini akhirnya runtuh?"

"Bagaimana Al-Azhar bisa bertahan lebih dari seribu tahun?"

"Mengapa Islam pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia?"

"Apa yang bisa kita pelajari agar umat Islam kembali membangun peradaban?"

Saat itulah saya menyadari bahwa perjalanan sejarah bukan sekadar wisata. Ia adalah proses belajar yang mampu mengubah cara seseorang melihat dunia.

Padahal, Al-Qur'an telah lama mengajarkan konsep ini.

Allah SWT berfirman:

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ ثُمَّ انْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

"Katakanlah (Muhammad), 'Berjalanlah di bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.'"
(QS. Al-An'am: 11)

Menariknya, Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk berjalan (sīrū), tetapi juga memperhatikan (unẓurū). Artinya, perjalanan fisik seharusnya melahirkan perjalanan intelektual dan spiritual.

Inilah ruh sebuah rihlah.


Mesir: Negeri yang Mengajarkan Bahwa Tidak Ada Kekuasaan yang Abadi

Hingga hari ini, saya masih sering melewati kawasan Kairo Islam menuju Al-Azhar. Meskipun sudah berkali-kali, selalu ada hal baru yang saya pelajari.

Sebagai tour leader, saya memiliki kebiasaan yang mungkin sedikit berbeda. Ketika rombongan tiba di Piramida Giza, saya tidak langsung mengajak mereka berfoto.

Saya biasanya mengajak mereka berdiri beberapa menit.

Diam.

Melihat batu-batu raksasa yang telah berdiri lebih dari 4.500 tahun.

Lalu saya bertanya,

"Menurut teman-teman, mengapa bangunan ini masih berdiri, sementara nama ribuan raja yang pernah hidup justru sudah tidak kita kenal?"

Percakapan biasanya mulai berubah sejak saat itu.

Piramida bukan lagi sekadar objek wisata.

Ia berubah menjadi ruang diskusi tentang waktu, kekuasaan, kesombongan manusia, dan keabadian Allah.

Ibnu Khaldun, sejarawan Muslim yang pernah mengajar di Al-Azhar, menulis dalam Muqaddimah bahwa sejarah pada hakikatnya adalah ilmu tentang masyarakat, peradaban, dan perubahan yang terus berlangsung.

Kalimat itu terasa hidup ketika memasuki Grand Egyptian Museum.

Di balik kaca-kaca museum tersimpan jasad para penguasa yang dahulu merasa dirinya paling berkuasa di bumi.

Hari ini mereka hanya menjadi objek pelajaran.

Allah SWT telah mengabadikan salah satunya.

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً

"Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau menjadi pelajaran bagi orang-orang sesudahmu."
(QS. Yunus: 92)

Setiap kali membawa rombongan ke museum itu, saya hampir selalu melihat ekspresi yang sama.

Ada yang terdiam.

Ada yang sibuk membaca setiap penjelasan.

Ada pula yang berkata pelan,

"Ternyata sebesar apa pun kekuasaan manusia, akhirnya semua kembali kepada Allah."

Sebagai pemandu perjalanan, momen seperti itulah yang paling saya tunggu.

Karena saya percaya tugas seorang tour guide bukan sekadar menjelaskan sejarah.

Tugas kami adalah membantu peserta menemukan makna di balik sejarah.


Belajar dari Kota yang Tidak Pernah Berhenti Mengajar

Selama menjadi mahasiswa Al-Azhar, saya sering merasa bahwa seluruh kota Kairo adalah ruang kuliah yang sangat besar.

Di kampus saya belajar dari para masyayikh.

Di luar kampus saya belajar dari kota itu sendiri.

Saya belajar bahwa masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi dahulu juga menjadi universitas.

Saya belajar bahwa pasar-pasar tua bukan hanya tempat berdagang, tetapi juga ruang bertemunya berbagai budaya.

Saya belajar bahwa peradaban besar tidak dibangun hanya oleh para sultan, tetapi juga oleh ulama, ilmuwan, pedagang, arsitek, guru, dan masyarakat biasa.

Setiap rombongan yang saya dampingi selalu memberikan perspektif baru.

Kadang justru pertanyaan peserta membuat saya kembali membuka kitab atau membaca referensi sejarah yang sebelumnya belum saya dalami.

Maka sebenarnya, saya bukan hanya mengajar selama perjalanan.

Saya juga terus belajar.


Turki: Ketika Sejarah Tidak Disimpan, Tetapi Dihidupkan

Pengalaman yang sama saya rasakan ketika mendampingi perjalanan sejarah di Turki.

Ada satu kebiasaan yang selalu saya lakukan sebelum rombongan memasuki Hagia Sophia.

Saya meminta mereka untuk menyimpan telepon genggam selama beberapa menit.

Saya berkata,

"Jangan buru-buru memotret. Lihat dulu bangunan ini. Rasakan suasananya."

Beberapa menit kemudian suasana biasanya berubah.

Mereka mulai memperhatikan kaligrafi raksasa di kubah.

Mereka melihat mosaik Bizantium.

Mereka bertanya mengapa dua peradaban besar dapat meninggalkan jejak dalam satu bangunan yang sama.

Di situlah diskusi tentang sejarah dimulai.

Turki mengajarkan saya bahwa peradaban besar tidak hanya dibangun melalui peperangan.

Ia dibangun melalui ilmu pengetahuan, tata kota, administrasi yang baik, seni, arsitektur, diplomasi, dan penghargaan terhadap budaya.

Ahmet Hamdi Tanpınar pernah mengatakan bahwa masa lalu bukanlah beban, melainkan fondasi yang membentuk siapa kita hari ini.

Saya melihat kalimat itu hidup di Istanbul.


Oleh-Oleh Terbaik Tidak Masuk ke Dalam Koper

Selama mendampingi berbagai perjalanan, saya mulai menyadari sebuah pola yang menarik.

Orang-orang selalu pulang membawa oleh-oleh.

Ada yang membeli kurma.

Ada yang membawa parfum.

Ada yang membawa sajadah.

Namun oleh-oleh terbaik justru tidak pernah terlihat.

Ia ada di dalam cara berpikir.

Peserta yang awalnya hanya ingin berlibur mulai tertarik membaca sejarah Islam.

Ada yang kembali belajar bahasa Arab.

Ada yang mulai membaca karya Ibnu Khaldun.

Ada yang mengajak keluarganya berdiskusi tentang peradaban Islam setelah pulang ke Indonesia.

Bagi saya, perubahan-perubahan kecil seperti inilah yang membuat sebuah perjalanan menjadi sangat berharga.


Menjadi Musafir, Bukan Sekadar Turis

Setelah bertahun-tahun hidup di Mesir, menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, dan mendampingi ratusan peserta menjelajahi Mesir serta Turki, saya semakin yakin bahwa perjalanan terbaik bukanlah perjalanan yang menghasilkan foto paling indah.

Perjalanan terbaik adalah perjalanan yang membuat kita pulang sebagai manusia yang berbeda.

Lebih rendah hati karena melihat betapa kecilnya diri kita di hadapan sejarah.

Lebih bijaksana karena memahami bahwa setiap peradaban memiliki pelajaran.

Dan lebih visioner karena mulai bertanya, "Kontribusi apa yang ingin saya tinggalkan untuk generasi setelah saya?"

Mungkin itulah makna rihlah yang sesungguhnya.

Bukan sekadar berpindah dari satu negara ke negara lain.

Tetapi berpindah dari cara berpikir yang sempit menuju cakrawala yang lebih luas.

Karena pada akhirnya, seorang turis hanya mengumpulkan foto.

Sedangkan seorang musafir mengumpulkan hikmah.

Dan sering kali, hikmah itulah yang akan menemani kita jauh lebih lama daripada gambar-gambar yang tersimpan di galeri telepon.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NABI MUHAMMAD SAJA MASIH BERSYUKUR LEWAT SHALATNYA

 Ketika Manusia yang Sudah Dijamin Surga Memilih Berdiri Hingga Kakinya Bengkak—Lalu Atas Dasar Apa Kita Beribadah Hanya Saat Butuh? Seorang...