Setiap mendekati penghujung Ramadhan, ada satu pertanyaan klasik yang selalu menghiasi ruang publik: "Apakah tahun ini kita berhari raya secara bersamaan atau berbeda hari?"
Bagi masyarakat awam, perbedaan hari raya kerap dipandang sebagai sekadar ketidaksepakatan teknis. Namun, jika dibedah dari kacamata epistemologi hukum Islam (ushul fiqh), sejarah peradaban, dan astronomi modern, disparitas ini pada dasarnya adalah manifestasi dari dinamika keilmuan yang sangat bernilai.
1. Dialektika Metodologis Lokal: NU vs. Muhammadiyah
Perbedaan penetapan awal bulan di Indonesia dipelopori oleh dua Ormas Islam terbesar, yang bersumber dari interpretasi terhadap nash shahih:
"Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihatnya."(HR. Bukhari no. 1909 & Muslim no. 1081)
┌───────────────────────────────────────────┐
│ Nash Syariat: "Saum/Iftar karena Hilal" │
└─────────────────────┬─────────────────────┘
│
┌──────────────────────────┴──────────────────────────┐
▼ ▼
┌──────────────────────────┐ ┌──────────────────────────┐
│ Nahdlatul Ulama (NU) │ │ Muhammadiyah │
│ "Rukyat sebagai Ibadah" │ │ "Rukyat sebagai Sarana" │
└────────────┬─────────────┘ └────────────┬─────────────┘
│ │
▼ ▼
┌──────────────────────────┐ ┌──────────────────────────┐
│ Rukyatul Hilal + MABIMS │ │ Hisab Wujudul Hilal │
│ Hilal ≥ 3° & Elongasi ≥ 6.4° │ Hilal > 0° di Atas Ufuk │
└──────────────────────────┘ └──────────────────────────┘
Nahdlatul Ulama: Epistemologi Rukyatul Hilal
Nahdlatul Ulama memandang kata ru'yah (الرؤية) secara tekstual-harfiah sebagai pengamatan kasatmata (ru'yah bishihatil 'ain). Bagi NU, pengamatan fisik bukan sekadar sarana (wasilah), melainkan bagian dari bentuk ibadah ta'abbudi yang diperintahkan secara eksplisit[^1].
- Sains sebagai Alat Bantu: NU tidak menolak hisab. Perhitungan astronomi dimanfaatkan sebagai alat bantu (khadimat) untuk memprediksi posisi hilal dan mengarahkan teropong pada lokasi rukyatul hilal di lapangan[^2].
- Kriteria MABIMS:
Sesuai kesepakatan Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), kriteria imkanur rukyat yang diadopsi NU dan Pemerintah RI menetapkan bahwa hilal dinyatakan mungkin terlihat jika ketinggian minimal $3^{\circ}$ dan elongasi minimal $6,4^{\circ}$. - Prinsip Istikmal: Apabila secara hisab hilal sudah berada di atas ufuk tetapi tidak memenuhi syarat visibilitas
$3^{\circ}$ atau tidak terverifikasi melalui saksi rukyat, NU memegang kaidah istikmal (menggenapkan umur bulan menjadi 30 hari).
Muhammadiyah: Epistemologi Hisab Wujudul Hilal
Muhammadiyah menggunakan pendekatan kontekstual-hermeneutik. Kata ru'yah diartikan sebagai al-'ilm (pengetahuan)[^3]. Pengamatan visual pada masa Nabi SAW dilakukan karena masyarakat saat itu belum menguasai ilmu astronomi (ummi)[^4]. Ketika sains telah presisi, sarana penentuan beralih dari visual (rukyat) ke matematis (hisab).
- Kriteria Wujudul Hilal:
Awal bulan dinyatakan masuk jika memenuhi tiga kriteria astronomis secara kumulatif: - Telah terjadi ijtima' (konjungsi matahari-bulan).
- Ijtima' terjadi sebelum matahari terbenam (gurub).
- Pada saat matahari terbenam, piringan atas bulan sudah berada di atas ufuk (ketinggian $> 0^{\circ}$).
- Kepastian Penanggalan: Tanpa mensyaratkan pembuktian visual atau batas ketebalan cahaya, Muhammadiyah dapat menyusun Kalender Islam Hakiki bertahun-tahun sebelum waktunya[^5].
2. Tipologi Metodologi Global: Arab Saudi, Turki, dan Mesir
Di ranah internasional, perbedaan penetapan juga mencerminkan interaksi antara otoritas keagamaan, tradisi fikih, dan pengadopsian sains.
┌──────────────────────────────────────────────────────────────────────────────────┐
│ SPEKTRUM GLOBAL │
├──────────────────────────┬────────────────────────────┬──────────────────────────┤
│ ARAB SAUDI │ MESIR │ TURKI │
│ Traditionalist-Literal │ Synthesizer │ Modernist-Calculative│
├──────────────────────────┼────────────────────────────┼──────────────────────────┤
│ • Rukyat Murni │ • Imkanur Rukyat Moderat │ • Hisab Hakiki Precision │
│ • Kesaksian Saksi │ • Syarat: 4° & Elongasi 7,5°│ • Syarat: 5° & Elongasi 8°│
│ • Tanpa batas minimal │ • Integrasi Dar al-Ifta │ • Ditetapkan bertahun- │
│ ketinggian hilal │ & Lembaga Antariksa │ tahun sebelumnya │
└──────────────────────────┴────────────────────────────┴──────────────────────────┘
A. Arab Saudi: Metodologi Traditionalist-Literal
Otoritas keagamaan tertinggi (Majlis Kibar al-'Ulama) Arab Saudi bersandar pada rukyatul hilal murni melalui kesaksian saksi mata (syahadah)[^6]. Apabila seorang saksi bersumpah telah melihat hilal—meskipun secara data sains astronomi hilal belum mencapai kriteria visibilitas—kesaksian tersebut dapat diterima secara syar'i[^7].
B. Turki: Metodologi Modernist-Calculative
Presidensi Urusan Agama Turki (Diyanet İşleri Başkanlığı) menerapkan pendekatan hisab astronomi murni tanpa pengamatan fisik di lapangan. Turki menetapkan kriteria ketat: ketinggian hilal minimal $5^{\circ}$ dan elongasi minimal $8^{\circ}$ di mana pun di permukaan bumi sebelum matahari terbenam di Greenwich[^8]. Pendekatan ini menghadirkan kepastian hukum (legal certainty) yang tinggi bagi penanggalan sipil dan perbankan.
C. Mesir: Metodologi Synthesizer
Dar al-Ifta Mesir bersama Lembaga Riset Astronomi dan Geofisika Nasional (NRIAG) menerapkan model sintesis[^9]. Kriteria Mesir menetapkan hilal minimal berada di ketinggian $4^{\circ}$ dan elongasi $7,5^{\circ}$. Berbeda dengan Saudi, jika ada saksi mata mengaku melihat hilal sementara kalkulasi sains membuktikan hilal belum memungkinkan untuk dilihat, maka kesaksian tersebut ditolak untuk mengeliminasi ilusi optik[^10].
3. Adab dalam Perbedaan: Menjaga Ukhuwah dan Menghindari Perdebatan Kusir
Di atas segala perbedaan metodologis dan akademis yang ada, hukum Islam (ushul fiqh) menyajikan panduan moral dan etika yang sangat jelas agar perbedaan ini tidak berubah menjadi sumber perpecahan (fitnah).
A. Sikap Bertoleransi (Tasamuh) dan La Yunkar
Para ulama menyepakati sebuah kaidah ushuliyyah yang sangat fundamental:
$$\text{"Perbedaan pendapat dalam masalah ijtihadiah tidak boleh menjadi alasan untuk saling menyalahkan."}$$
Isu penetapan hilal berada pada ranah furu'iyyah (cabang agama) yang sifatnya ijtihadiyyah. Ketika suatu kelompok menetapkan tanggal berdasarkan ijtihad metodologis yang valid, maka pilihan tersebut mengikat bagi kelompoknya tanpa berhak memaksakan kehendak atau menghakimi kelompok lain.
B. Menghindari Perdebatan Publik yang Tanpa Arah
Sahabat Nabi, Abdullah bin Mas'ud RA, pernah menegaskan sebuah prinsip penting saat beliau memilih mengikuti rakaat shalat Usman bin Affan RA di Mina meskipun terdapat perbedaan ijtihad:
$$\text{"Perpecahan dan perselisihan itu jauh lebih buruk."} \quad (\text{HR. Abu Dawud})$$
Menjadikan momen penentuan hilal sebagai ajang saling ejek di media sosial, merasa paling sunnah, atau menganggap pihak lain keliru adalah tindakan yang merusak esensi Ramadhan dan Idul Fitri itu sendiri. Jika ada dua pihak berhari raya di hari yang berbeda, masing-masing cukup menjalankan keyakinan metodologisnya tanpa perlu mendebat pilihan saudaranya.
C. Mentaati Keputusan Otoritas (Hukm al-Hakim)
Dalam tataran kemasyarakatan dan kepemerintahan, berlaku kaidah fiqih universal:
$$\text{"Ketetapan hukum dari otoritas/pemerintah menghilangkan perbedaan pendapat."}$$
Bagi masyarakat umum yang memilih mengikuti keputusan penetapan resmi negara (Sidang Isbat Kemenag RI), kewajiban menjalankan ibadah puasa maupun berhari raya telah gugur dan sah secara syar'i karena bersandar pada pemegang otoritas (Ulil Amri). Sementara bagi individu atau kelompok yang memilih menjalankan hasil hisab/rukyat mandiri, syariat menekankan untuk menjaga adab sosial: tidak menampakkan perilaku yang memprovokasi atau memicu kegaduhan publik.
Matriks Perbandingan Metodologis
| Parameter | Nahdlatul Ulama (NU) | Muhammadiyah | Arab Saudi | Turki (Diyanet) | Mesir (Dar al-Ifta) |
| Pijakan Utama | Rukyatul Hilal Bil Fi'li | Hisab Wujudul Hilal | Rukyatul Hilal Kasatmata | Hisab Astronomi Murni | Rukyat Terverifikasi Hisab |
| Syarat Ketinggian | Minimal $3^{\circ}$ | $> 0^{\circ}$ (Di atas ufuk) | Tanpa Batas ($>0^{\circ}$) | Minimal $5^{\circ}$ | Minimal $4^{\circ}$ |
| Syarat Elongasi | Minimal $6,4^{\circ}$ | Tidak Disyaratkan | Tidak Disyaratkan | Minimal $8^{\circ}$ | Minimal $7,5^{\circ}$ |
| Kedudukan Sains | Alat bantu verifikasi (Khadimat) | Penentu Hukum Utama (Ghayat) | Sekunder | Primer / Mutlak | Filter validasi rukyat |
| Otoritas Penetap | Sidang Isbat Kemenag RI | Majelis Tarjih & Tajdid | Mahkamah Agung Saudi | Presidensi Diyanet | Dar al-Ifta' al-Misriyyah |
Catatan kaki & Referensi Literatur
[^1]: Al-Nawawi, Abu Zakariya Mahyuddin bin Syaraf. Kitab al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab. (Jeddah: Maktabah al-Irsyad, 1970), Jilid 6, hlm. 269–271.
[^2]: Ibnu Hajar al-'Asqalani. Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari. (Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1379 H), Jilid 4, hlm. 127.
[^3]: Azhari, Susiknan. Ilmu Falak: Perjumpaan Khazanah Islam dan Sains Modern. (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2007), hlm. 45–52.
[^4]: Ibnu Taimiyah, Taqiyuddin. Majmu' al-Fatawa. (Madinah: Majma' al-Malik Fahd, 1995), Jilid 25, hlm. 114–116.
[^5]: Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. Pedoman Hisab Muhammadiyah. (Yogyakarta: Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, 2009), hlm. 12–18.
[^6]: Al-Syanqiti, Muhammad al-Mukhtar. Mawāqīt al-Ibadāt al-Makaniyyah wa al-Zamaniyyah. (Riyadh: Dar Kunuz Isbilya, 2006), hlm. 104.
[^7]: Al-Zuhaili, Wahbah. Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh. (Damaskus: Dar al-Fikr, 1985), Jilid 3, hlm. 1658.
[^8]: Diyanet İşleri Başkanlığı (Presidensi Urusan Agama Turki). Kararlar ve Tebliğler: Hicri Takvim Birliği Kongresi Kararları. (Ankara: Diyanet Yayınları, 2016).
[^9]: Dar al-Ifta' al-Misriyyah. Kitab al-Shiyam: Ahkam wa Fatawa. (Kairo: Dar al-Ifta', 2018), hlm. 12–15.
[^10]: King, David A. Astronomy in the Service of Islam. (Hampshire: Variorum Collected Studies Series, 1993), hlm. 142–148.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar