Penulis: Alvaro Mellinio Prathama, Lc. (Alumnus Universitas Al-Azhar Kairo / Peneliti Fikih & Hukum Islam)
I. PENDAHULUAN: DIALEKTIKA FIKIH DAN TANTANGAN REPEAT CONFLICT
Setiap kali hilal Ramadan terbit, dinamika intelektual di tengah masyarakat muslim sering kali terdistraksi oleh perdebatan klasik yang terulang secara berkala: perdebatan mengenai kuantitas rakaat shalat Tarawih. Sebagian kalangan secara rigid membatasi bahwa shalat Tarawih tidak boleh melebihi 8 rakaat dengan tuduhan bid'ah bagi yang menambahnya. Di sisi lain, mayoritas umat Islam di belahan dunia Islam—terutama yang beraliran mazhab empat—konsisten menjalankan 20 rakaat, bahkan 36 rakaat sebagaimana tradisi Ahlul Madinah.
Fenomena kekakuan pemikiran (al-jumud al-fikri) ini timbul akibat minimnya pemahaman terhadap metodologi istinbath al-ahkam serta ketiadaan perspektif fikih muqaran (fikih komparatif). Melalui risalah akademis ini, kita akan membedah secara komprehensif fatwa mantan Ketua Komite Fatwa Al-Azhar, Syekh ‘Athiyyah Shaqar rahimahullah[^10], dengan pendekatan kritis akademis ala manhaj Al-Azhar Asy-Syarif untuk mengurai hakikat sunnah, ijma' sahabat, serta kaidah kompromi dalil (al-jam'u wa al-taufiq).
II. ANALISIS NASS DAN METODOLOGI PERIWAYATAN MARFU'
1. Dekonstruksi Hadis Sayyidatina Aisyah radhiyallahu 'anha
Pihak yang membatasi shalat Tarawih 8 rakaat umumnya berpegang pada tekstualitas hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Urwah bin Az-Zubair, bahwa Sayyidatina Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:
مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا
“Rasulullah ﷺ tidak pernah menambah, baik pada bulan Ramadan maupun di luar Ramadan, lebih dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat—jangan engkau tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian shalat empat rakaat—jangan engkau tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat tiga rakaat.”[^1]
Dalam perspektif dirayah al-hadith dan metodologi ulama Al-Azhar, pendalilan dengan hadis ini untuk membatasi rakaat Tarawih mengalami beberapa kekeliruan metodologis:
Konteks Hadis adalah Shalat Tahajud/Witir Konvensional: Frasa "fi Ramadhana wa la fi ghairihi" (baik di bulan Ramadan maupun luar Ramadan) membuktikan bahwa yang dibicarakan Sayyidatina Aisyah adalah tradisi shalat malam umum (Shalat al-Lail/Tahajud), karena shalat Tarawih secara khusus hanya ada di bulan Ramadan.
Redaksi "Empat Rakaat" Bukan Larangan Salam Per Dua Rakaat: Pernyataan "yushalli arba'an" dirincikan oleh riwayat lain dari Sayyidatina Aisyah sendiri dalam Shahih Muslim bahwa Nabi ﷺ mengucapkan salam pada setiap dua rakaat ("yusallimu min kulli rak'atain")[^2]. Hal ini selaras dengan kaidah umum Nabawi: "Shalatul laili matsna matsna" (Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat)[^3].
2. Riwayat Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu
Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dalam kitab Shahih mereka dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ mengimami para sahabat sebanyak 8 rakaat kemudian ditutup witir[^4]. Peristiwa ini terjadi selama beberapa malam sebelum akhirnya Nabi ﷺ menghentikannya karena khawatir (khasyiyah) shalat tersebut ditaklifkan menjadi wajib atas umatnya. Ini menunjukkan bahwa secara kauliah dan fi'liah dasar shalat jamaah Tarawih memang shahih dari Nabi, namun kuantitasnya tidak dibatasi sebagai batasan maksimal (hadd aqsha).
III. TRAJEKTORI HISTORIS MASA UMAR BIN AL-KHATTAB DAN IJMA' SAHABAT
1. Unifikasi Jamaah dan Institusionalisasi 20 Rakaat
Pada era Khilafah Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu, kondisi sosial masyarakat yang shalat terpisah-pisah di Masjid Nabawi disatukan di bawah satu imam, yaitu Ubay bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu. Khalifah Umar menetapkan bilangan rakaat sebanyak 20 rakaat di luar witir (total 23 rakaat dengan witir)[^5].
Ketika menyaksikan shalat berjamaah yang teratur rapi tersebut, Sayyidina Umar mengungkapkan kalimat monumental:
نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ
“Sebaik-baik inovasi adalah ini.”[^6]
Penggunaan istilah "bid'ah" di sini adalah secara bahasa (lughawi), bukan secara syariat (syar'i). Sebab dasar hukum shalat jamaah malam Ramadan sudah ada dari Sunnah Nabi. Umar melakukan penataan institusional (tanzhim) yang disepakati oleh seluruh Sahabat tanpa ada satu pun yang mengingkari (ijma' sukuti).
2. Konsensus Jumhur Fuqaha
Imam At-Tirmidzi dalam kitab Sunan-nya menegaskan bahwa mayoritas ahli ilmu dari kalangan Sahabat (seperti Umar, Ali, Ibnu Mas'ud) dan Tabi'in, serta para imam mazhab (Sufyan At-Tsauri, Ibnu Al-Mubarak, Al-Syafi'i) mempraktikkan 20 rakaat[^7]. Praktik ini terus berlanjut di Al-Haramain (Mekah dan Madinah) secara lintas generasi.
IV. EKSPLORASI MAZHAB FIKIH DAN FENOMENA 36 RAKAAT MADINAH
| Mazhab / Entitas | Jumlah Rakaat Tarawih | Witir | Total Rakaat | Landasan Konseptual Metodologis |
| Jumhur (Hanafi, Syafi'i, Hanbali) | 20 Rakaat | 3 Rakaat | 23 Rakaat | Ijma' Sahabat pada masa Umar, Utsman, dan Ali RA. Standardisasi salaf. |
| Mazhab Maliki (Ahlul Madinah) | 36 Rakaat | 3 Rakaat | 39 Rakaat | Amal Ahl al-Madinah pada masa Umar bin Abdul Aziz untuk mengimbangi tawaf Mekah. |
| Pendapat Pendukung 8 Rakaat | 8 Rakaat | 3 Rakaat | 11 Rakaat | Mengambil tekstualitas riwayat Sayyidatina Aisyah RA (pilihan afdhal, bukan batasan mutlak). |
Poin paling menarik dalam eksplorasi fikih adalah praktik 36 rakaat di Madinah. Imam Az-Zarqani dalam Syarh Al-Mawahib Al-Ladunniyyah merincikan evolusi historis ini[^8]. Ketika penduduk Mekah melaksanakan shalat Tarawih 20 rakaat, setiap selesai 4 rakaat (satu tarwihat/istirahat), mereka melakukan tawaf mengelilingi Ka'bah 7 putaran dan shalat sunnah 2 rakaat.
Penduduk Madinah yang tidak memiliki Ka'bah ingin menyamai keutamaan pahala tawaf penduduk Mekah. Maka, sebagai ganti dari 4 kali tawaf di sela-sela istirahat Tarawih, mereka menambah 4 rakaat shalat pada setiap jeda (4 x 4 = 16 rakaat tambahan). Ditambahkan pada 20 rakaat asal, maka totalnya menjadi 36 rakaat. Hal ini disetujui oleh para ulama mazhab Maliki dan menjadi bukti nyata betapa fleksibelnya kuantitas shalat malam.
V. SINTESIS MANHAJ IBNU HAJAR AL-'ASQALANI DAN FATWA SYEKH 'ATHIYYAH SHAQAR
Untuk menyelaraskan seluruh riwayat yang terkesan kontradiktif, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqalani dalam karya fenomenalnya Fath al-Bari memberikan sintesis kaidah yang sangat elegan:
Kaidah Korelasi Kuantitas & Kualitas (Ibnu Hajar Al-'Asqalani):
“Perbedaan riwayat mengenai jumlah rakaat shalat Tarawih bertumpu pada panjang dan pendeknya bacaan Al-Qur'an. Jika bacaan surat dipanjangkan (seperti membaca satu juz atau lebih per malam), maka jumlah rakaat disedikitkan (8/11 rakaat). Sebaliknya, jika bacaan surat dipendekkan demi meringankan jamaah, maka jumlah rakaat diperbanyak (20 atau 36 rakaat) agar kuantitas rukuk dan sujud tetap terjaga.”[^9]
Syekh ‘Athiyyah Shaqar menyimpulkan bahwa shalat Tarawih masuk dalam kategori ibadah yang muthlaq al-nafl dalam kerangka qiyamu Ramadan. Tidak ada nash shahih sharih (tegas) dari Nabi ﷺ yang melarang menambah atau mengurangi rakaat dari 11 atau 20 rakaat. Oleh karena itu, penetapan rakaat bersifat kontekstual berdasarkan kesiapan dan kondisi jamaah setempat (ri'ayatu ahwal al-mu'minin).
VI. KESIMPULAN DAN RELEVANSI AKADEMIS
Dari penelusuran fikih muqaran di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan akademis:
Keabsahan Seluruh Pendapat: Shalat Tarawih 8, 20, maupun 36 rakaat semuanya memiliki pijakan dalil, histori sanad, dan metodologi istinbath yang mu'tabar.
Kedudukan 20 Rakaat: 20 rakaat merupakan ijma' amali para Sahabat dan Jumhur Fuqaha yang melandasi standar mayoritas dunia Islam.
Sikap Akademis Menghadapi Perbedaan: Menurut kaidah Usul Fikih: "La yunkaru al-mukhtalafu fihi wa innama yunkaru al-mujma' 'alaih" (Tidak boleh mengingkari perkara yang masih diperselisihkan ulama; yang boleh diingkari hanyalah hal yang disepakati keharamannya). Menuding sesat atau bid'ah kepada sesama muslim karena perbedaan rakaat Tarawih adalah tindakan yang menyalahi etika keilmuan (adab al-ikhtilaf).
CATATAN KAKI (AL-MARAJI' WA AL-MASADIR)
[^1]: Al-Bukhari, Muhammad ibn Ismail. Al-Jami’ al-Shahih (Shahih al-Bukhari). Kitab al-Tahajjud, Bab Qiyam al-Nabi fi Ramadan. Kairo: Al-Mathba'ah al-Salafiyyah, 1400 H, Juz 2, hlm. 53, no. 1147; Muslim ibn al-Hajjaj. Shahih Muslim. Kitab Shalat al-Musafirin, no. 738.
[^2]: Muslim ibn al-Hajjaj al-Naisaburi. Shahih Muslim. Tahqiq: Muhammad Fu'ad 'Abd al-Baqi. Kairo: Dar Ihya' al-Kutub al-'Arabiyyah, 1374 H, Juz 1, hlm. 516, no. 749.
[^3]: Al-Bukhari, Al-Jami’ al-Shahih, Kitab al-Shalah, Bab Ma Ja'a fi al-Witr, Juz 1, hlm. 122, no. 472.
[^4]: Ibnu Hibban, Abu Hatim. Shahih Ibn Hibban bi Tartib Ibn Balban. Tahqiq: Syu'aib al-Arna'uth. Beirut: Mu'assasah al-Risalah, edisi II, 1993, Juz 6, hlm. 296, no. 2575; Ibnu Khuzaimah, Abu Bakr. Shahih Ibn Khuzaimah. Beirut: Al-Maktab al-Islami, 1970, Juz 2, hlm. 138, no. 1070.
[^5]: Al-Bayhaqi, Abu Bakr. Al-Sunan al-Kubra. Tahqiq: Muhammad 'Abd al-Qadir 'Atha. Mekah: Maktabah Dar al-Baz, 1994, Juz 2, hlm. 496, no. 4392.
[^6]: Al-Bukhari, Al-Jami’ al-Shahih, Kitab Shalat al-Tarawih, Bab Fadhl Man Qama Ramadan, Juz 3, hlm. 58, no. 2010.
[^7]: Al-Tirmidzi, Muhammad ibn 'Isa. Sunan al-Tirmidzi (Al-Jami' al-Kabir). Tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir. Kairo: Mustafa al-Babi al-Halabi, edisi II, 1975, Juz 3, hlm. 169, keterangan hadis no. 806.
[^8]: Al-Zarqani, Muhammad ibn 'Abd al-Baqi. Syarh al-Zarqani 'ala al-Mawahib al-Ladunniyyah li al-Qasthallani. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, edisi I, 1996, Juz 11, hlm. 376-377.
[^9]: Ibnu Hajar al-'Asqalani, Ahmad ibn 'Ali. Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari. Kairo: Al-Maktabah al-Salafiyyah, 1390 H, Juz 4, hlm. 253-254.
[^10]: Shaqar, 'Athiyyah. Fatawa al-Azhar. Kairo: Majma' al-Buhuth al-Islamiyyah - Al-Azhar, 1997, Juz 8, hlm. 241-244.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar