Ada satu momen di penghujung perjalanan Rasulullah ﷺ di muka bumi yang selalu berhasil melelehkan hati setiap orang yang mendengarnya. Bukan cerita tentang kemenangan perang yang gemilang. Bukan tentang mu'jizat yang spektakuler. Melainkan sebuah kejadian sederhana—sebuah cambuk, sebuah hutang, dan seorang sahabat yang rela melakukan apapun hanya untuk menyentuh kulit nabi.
Mari kita masuki ruang masjid pada hari-hari terakhir kehidupan Rasulullah ﷺ.
Panggilan Terakhir Seorang Pemimpin
Tubuh mulia itu sudah tidak tersisa banyak energi. Sakitnya telah menggerogoti kekuatan fisik yang dulu menginspirasi ribuan pasukan. Namun nyala mata beliau—mata yang telah membaca surga dan neraka—masih bersinar tegas dengan tujuan.
Rasulullah ﷺ memanggil Bilal. "Kumandangkan adzan. Panggil semua sahabat. Aku ada yang harus disampaikan sebelum aku pergi."
Suara Bilal bergema dari minarah. Satu per satu para sahabat berbondong-bondong memasuki masjid. Abu Bakar, Umar, Ali, Fatimah, Hasan, Husain—semua mereka tiba, dengan hati-hati memandang Nabi mereka yang duduk di atas mimbar dengan tubuh yang ringkih.
Keheningan merayap ke seluruh sudut masjid.
Lalu, dengan suara yang masih jelas meski terengah, Rasulullah ﷺ berkata:
"Aku akan segera pergi menemui Rabbku. Dan sebelum itu terjadi, aku ingin mengakhiri semua urusanku dengan kalian. Apakah ada yang merasa aku berhutang kepadanya? Aku tidak ingin bertemu dengan Allah dalam keadaan berhutang pada siapapun dari kalian. Adakah yang ingin mengembalikan haknya? Berkata sajalah dengan terus terang."
Suasana berubah. Para sahabat mulai menangis—bukan tangisan biasa, melainkan tangisan yang keluar dari dalam sanubari yang terparu. Bagaimana mungkin manusia yang telah mengorbankan segalanya untuk membimbing mereka menuju cahaya malah merasa berhutang?
Tidak ada yang menjawab. Pertanyaan itu diulang. Diam.
Diulang untuk ketiga kalinya. Masih senyap.
Lalu, tiba-tiba—
Ukasyah Berdiri dengan Kelantangan yang Mengejutkan
Seorang sahabat bangkit. Nama mereka: Ukasyah bin Mihshan. Matanya melip-lipir emosi. Tubuhnya bergetar.
"Ya Rasulullah," ia mulai, suaranya berguncang. "Aku ingat perang Uhud. Saat itu engkau menunggangi kuda putihmu. Tiba-tiba engkau mengayunkan cemeti ke belakang. Tapi tujuannya bukan kuda—cambukan itu mengenai dadaku yang telah terbuka karena aku berdiri tepat di belakangmu."
Suasana masjid berdebu dengan ketegangan. Semua mata tertuju pada Rasulullah ﷺ.
Beliau tidak menghindari. Tidak membuat alasan. Tidak berkata "itu sudah berlalu." Sebaliknya, beliau memandang Ukasyah dengan ketulus-tulasan luar biasa dan berkata:
"Benar. Itu adalah hutang, Ukasyah. Dan hari ini, aku siap menyelesaikannya. Aku siap menerima kisas (balasan) yang sama darimu."
Seketika, masjid meledak dengan emosi.
Abu Bakar Ash-Shiddiq melompat berdiri, wajahnya merah padam. Umar bin Khattab segera mengikuti. Ali bin Abi Thalib, Hasan, Husain—satu per satu mereka maju ke depan, menawarkan punggung mereka sendiri untuk menerima cambukan itu, mengingat kondisi Nabi yang sedang parah.
"Lepaskan kami, Ya Rasulullah!" "Ambil dari kami!" "Tubuhku lebih kuat!"
Tapi Rasulullah ﷺ dengan tegas menolak mereka semua. "Duduk kalian. Ini adalah urusan antara aku dan Ukasyah. Ini tentang prinsip keadilan. Tidak ada pengecualian."
Momen yang Mengubah Segalanya
Sebuah cambuk diambil dari rumah Fatimah. Ukasyah meminta Nabi turun dari mimbar. Meminta beliau membuka jubahnya seperti dirinya dulu membuka dada saat terkena cambukan.
Ketika kain itu tersingkap, para sahabat menangis sejadi-jadinya.
Tubuh yang mereka lihat bukanlah tubuh seorang raja. Ini adalah tubuh seorang hamba yang telah berusaha sekuat tenaga untuk dunia mereka. Terlihat tulang-tulang yang menonjol. Bahkan—dan inilah yang memecahkan hati mereka—ada beberapa batu kecil yang terikat di perut beliau. Sebuah tanda bahwa si Kekasih Allah sedang menahan lapar yang tak tertahankan.
Ukasyah maju melangkah perlahan. Cambukan terangkat di tangannya. Semua menahan napas.
Tapi...
Alih-alih mengayunkan cambuk, Ukasyah justru melemparnya jauh-jauh dengan sekuat tenaga. Kemudian, dengan gerakan yang eksplosif, ia memeluk tubuh Rasulullah ﷺ sambil menangis tersedu-sedu. Isak tangisnya terdengar hingga ke sudut-sudut masjid.
"Ya Rasulullah... maafkan aku. Maafkan aku... Bagaimana mungkin aku memukuli engkau? Apa yang aku pikirkan?"
Beliau menunggu. Mendengarkan.
"Sebenarnya," lanjut Ukasyah dengan suara yang terputus-putus, "aku melakukan ini hanya untuk satu alasan. Aku menginginkan kulitku bersentuhan langsung dengan kulitmu. Karena aku pernah mendengar engkau bersabda: 'Barang siapa kulitnya pernah menyentuh kulit nabi, maka diharamkan api neraka atasnya.'
Dia mengambil napas dalam.
"Seumur hidupku, Ya Rasulullah, ini adalah cita-cita terbesar yang pernah aku bermimpi. Untuk sedekat mungkin denganmu. Untuk terbebas dari neraka. Dan untuk mencintaimu dengan cara yang paling murni."
Ruang masjid terdiam total. Bahkan suara tangisan pun berhenti untuk sejenak.
Lalu, Rasulullah ﷺ tersenyum—sebuah senyuman yang hangat, lembut, puas. Dan beliau berkata kepada seluruh sahabat yang hadir:
"Wahai sahabatku semua. Jika kalian ingin melihat salah satu penghuni surga dengan mata kepala kalian, maka tataplah Ukasyah bin Mihshan."
Catatan Akademik: Menakar Kebenaran Riwayat
Sebagai pelajar ilmu Islam, kita diajarkan untuk tidak hanya larut dalam keindahan cerita, melainkan juga meneliti akurasi historisnya melalui ilmu musthalah hadis. Pertanyaannya adalah: Apakah kisah ini benar-benar terjadi?
Kedudukan Hadis menurut Para Ahli
Mayoritas ulama hadis kontemporer dan klasik mengkategorikan cerita kisas cemeti ini (di momen-momen akhir Nabi) sebagai riwayat yang sangat lemah (dhaif jiddan), bahkan sebagian menyebutnya palsu (maudhu').
Kelemahan utamanya terletak pada sanad-nya. Kisah ini diriwayatkan melalui Al-Mu'jam al-Kabir (Imam At-Thabarani), tetapi dalam jalur sanadnya terdapat seorang perawi bernama Abdul Mun'im bin Idris. Kritikus hadis besar seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Adz-Dzahabi, dan Imam Ibnu Jauzi semuanya menegaskan bahwa Abdul Mun'im adalah perawi yang tidak dapat dipercaya dan sering dituduh membuat riwayat palsu.
Riwayat yang Sahih tentang Ukasyah
Adapun riwayat tentang Ukasyah yang benar-benar autentik dan shahih terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Dalam riwayat itu, disebutkan bahwa Nabi ﷺ sedang berbicara tentang tujuh puluh ribu umatnya yang akan masuk surga tanpa hisab. Mendengar hal itu, Ukasyah langsung berdiri dan memohon: "Ya Rasulullah, doa'kan agar aku menjadi salah satu dari mereka."
Nabi ﷺ pun mendoakan Ukasyah. Inilah cerita autentik tentang Ukasyah dan jaminan surganya—bukan cerita cambukan ini.
Mengapa Kita Tetap Menceritakannya?
Meskipun kisah kisas cemeti ini bermasalah dari segi sanad, nilai moral yang terkandung di dalamnya selaras dengan prinsip-prinsip syariat yang sesungguhnya:
- Keadilan Seorang Pemimpin: Pemimpin sejati tidak menempatkan dirinya di atas hukum. Bahkan untuk hal yang tidak disengaja, beliau tetap siap mempertanggungjawabkan. Ini adalah integritas kepemimpinan yang agung.
- Mahabbah yang Gila-Gilaan: Kerinduan terdalam seorang mukmin adalah bisa sedekat mungkin dengan Nabi—baik dalam sunah, akhlak, maupun kehadiran fisiknya—demi meraih keselamatan di akhirat. Inilah semangat cinta yang murni kepada Allah dan RasulNya.
Kisah ini adalah pengingat: Keadilan dan cinta adalah dua pilar yang tidak boleh dikorbankan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar