Oleh: Alvaro Mellinio Prathama, Lc.
Di era modern, kita sering mendengar istilah "kriminalisasi ulama" ketika tokoh agama berbenturan dengan kekuasaan politik. Namun, jika kita membedah lembaran sejarah Islam, persekusi terhadap para ulama bukanlah fenomena baru. Justru, semakin tinggi keilmuan dan integritas seorang ulama, semakin berat pula ujian yang mereka hadapi dari penguasa yang zalim.
Bagi para raksasa intelektual ini, jeruji besi, cambukan, hingga pengasingan adalah harga yang rela mereka bayar demi menjaga kemurnian syariat. Mari kita napak tilas kisah 8 ulama besar yang memilih menderita secara fisik daripada menggadaikan kebenaran.
I. Empat Tiang Mazhab: Diuji oleh Cambuk dan Rantai
Ironisnya, keempat Imam Mazhab yang menjadi rujukan miliaran umat Islam saat ini, semuanya pernah merasakan pahitnya kezaliman penguasa:
1. Imam Abu Hanifah: Syahidnya Sang Penjaga Integritas Beliau adalah simbol perlawanan tanpa kekerasan. Di era Dinasti Umayyah (di bawah Marwan bin Muhammad) hingga era Dinasti Abbasiyah (Al-Manshur), Imam Abu Hanifah konsisten menolak jabatan Qadhi (Hakim Agung). Beliau tahu, menjadi hakim penguasa zalim berarti harus melegalkan ketidakadilan. Akibatnya? Beliau dicambuk, dipenjara, dan wafat pada usia 68 tahun (150 H) di balik jeruji besi—diyakini karena diracun atau dipukul. Namun, kebesarannya tak bisa dipenjara; 50.000 pelayat menshalatkan jenazahnya.
2. Imam Malik: Cambukan Demi Sebuah Fatwa Pada tahun 147 H, penguasa Abbasiyah mencoba memaksakan baiat (sumpah setia) dengan ancaman: Siapa yang tidak taat, maka istrinya tertalak. Imam Malik dengan tegas menentang ini dan mengeluarkan fatwa berdasarkan hadits: "Tidak sah talak orang yang dipaksa." Akibat fatwa yang meruntuhkan hegemoni penguasa ini, Gubernur Madinah mencambuk beliau hingga tangannya terluka parah.
3. Imam Syafi’i: Dirantai karena Fitnah Makar Kecerdasan Imam Syafi'i membuat banyak pihak dengki. Seorang bernama Mutharrif bin Mazin memfitnah beliau sebagai pendukung pemberontakan Syiah/Alawiyin. Sang Imam ditangkap, tangan dan kakinya dibelenggu rantai, lalu diarak di jalanan layaknya kriminal kelas teri menuju hadapan Khalifah Harun Ar-Rasyid. Berkat kecerdasan dan argumennya yang gemilang, beliau berhasil membuktikan ketidakbersalahannya dan dibebaskan oleh Khalifah.
4. Imam Ahmad bin Hanbal: 30 Bulan Bertahan dari Siksaan Ini adalah salah satu ujian terbesar dalam sejarah akidah Islam (peristiwa Mihnah). Khalifah Al-Makmun memaksakan doktrin Muktazilah bahwa Al-Qur'an adalah makhluk. Imam Ahmad menolak keras dan tetap meyakini Al-Qur'an adalah Kalamullah. Konsekuensinya, beliau dicambuk hingga tak sadarkan diri dan dipenjara selama 30 bulan. Beliau baru menghirup udara kebebasan dan direhabilitasi namanya di era Khalifah Al-Mutawakkil.
II. Pena yang Ditakuti Penguasa: Kisah Ibnu Taimiyah
5. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Penjara seolah menjadi rumah kedua bagi Ibnu Taimiyah. Beliau dipenjara di Kairo, diasingkan ke Alexandria, hingga dikurung di Damaskus akibat fatwa-fatwanya yang menentang arus utama (seperti masalah sumpah dan talak), serta kritik tajamnya terhadap penguasa dan ulama su' (buruk).
Yang paling mengharukan adalah masa penahanan terakhirnya bersama sang murid, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Mengetahui bahwa penjara tak menghentikan dakwahnya, penguasa merampas kertas, pena, dan tinta dari selnya. Dilarang membaca dan menulis adalah "siksaan" terberat bagi sang ulama, hingga beliau jatuh sakit dan wafat di dalam penjara pada tahun 728 H.
III. Pengasingan Para Pemikir dan Penjaga Sabda Nabi
Bukan hanya ahli Fikih, para ahli Hadits dan Tasawuf pun tak luput dari tekanan politik pada masanya:
6. Imam Al-Bukhari: Penulis kitab hadits paling shahih (Shahih Bukhari) ini harus menghadapi penindasan, pengejaran, dan pengusiran dari penguasa. Metode seleksi haditsnya yang sangat ketat dan independen dianggap kontroversial dan tidak sejalan dengan keinginan politik penguasa saat itu.
7. Imam Abu Dawud: Senasib dengan Al-Bukhari, penulis Sunan Abu Dawud ini juga diintimidasi. Pengumpulan hadits-hadits Nabi yang beliau lakukan dianggap mengancam otoritas beberapa pihak, sehingga karya-karyanya sempat berusaha dibatasi penyebarannya.
8. Imam Al-Ghazali: Sang Hujjatul Islam menghadapi tekanan politik dan intelektual yang sangat luar biasa dari para elit. Merasa bahwa posisi akademis tertingginya di Universitas Nizamiyyah Baghdad justru mengancam ketenangan batinnya, beliau memilih "menghukum" dirinya sendiri dengan mengasingkan diri (uzlah) dari kehidupan publik untuk merenung dan menulis mahakarya Ihya' Ulumuddin.
Epilog: Mahkota Kebenaran di Atas Penderitaan
"Mereka bisa memenjarakan fisikku, tapi mereka tidak akan pernah bisa memenjarakan keyakinanku."
Kisah kedelapan ulama di atas memberikan kita satu pelajaran mahal: Kebenaran seringkali berjalan di jalan yang sepi dan terjal. Penguasa yang memenjarakan mereka mungkin memiliki istana, pasukan, dan kekayaan yang melimpah ruah pada masanya. Namun hari ini, nama-nama raja zalim itu hanya diingat dengan cibiran sejarah, atau bahkan terlupakan.
Sebaliknya, Imam Abu Hanifah, Malik, Syafi'i, Ahmad, Ibnu Taimiyah, Bukhari, Abu Dawud, dan Al-Ghazali wafat tanpa meninggalkan harta warisan yang melimpah. Namun, ilmu yang mereka tulis dengan keringat, air mata, dan darah di balik jeruji penjara, terus mengalir menjadi pahala dan membimbing miliaran umat Islam hingga detik ini. Inilah kemenangan yang sesungguhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar