Sabtu, 04 Juli 2026

Polemik Angka di Malam Mulia: Mengurai Sirah 11, 23, hingga 36 Rakaat Tarawih


Oleh: Alvaro Mellinio Prathama, Lc. — Alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo


Setiap kali hilal Ramadhan terlihat, ada satu perdebatan klasik yang nyaris selalu ikut "berpuasa" bersama kita: Berapa sebenarnya jumlah rakaat shalat Tarawih yang paling benar?

Di satu masjid, jamaah mantap dengan 11 rakaat. Di masjid seberang, jamaah khusyuk menyelesaikan 23 rakaat. Bahkan jika kita menengok catatan sejarah, ada yang melaksanakannya hingga 36 rakaat. Sebelum sibuk berdebat dan mengklaim kelompok kitalah yang paling "Sunnah", mari kita bedah lembaran Sirah dan Fikih ini dengan hati yang lapang.


Jejak Awal di Masa Rasulullah ﷺ: Kualitas di Atas Kuantitas

Mari mulai dari akar sejarahnya. Rujukan utama kelompok 11 rakaat adalah hadits Aisyah radhiyallahu 'anha yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari:

"Rasulullah ﷺ tidak pernah menambah, dalam bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan, lebih dari sebelas rakaat; beliau melaksanakan empat rakaat, jangan engkau tanya tentang bagus dan lamanya..."

Formasi 4-4-3 ini tidak menafikan adanya salam di setiap dua rakaat. Dalam riwayat lain, Aisyah juga menegaskan bahwa Nabi ﷺ "mengucapkan salam dari setiap dua rakaat" dan menutupnya dengan satu rakaat witir. Ditambah riwayat shahih dari Jabir dalam Shahih Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah bahwa Nabi ﷺ mengimami sahabat sebanyak 8 rakaat ditambah witir.

Satu hal yang perlu digarisbawahi: 11 rakaat di masa Nabi ﷺ itu sangat panjang bacaannya. Kaki-kaki para sahabat sampai bengkak karena lamanya berdiri. Ini bukan soal jumlah—ini soal kualitas qiyamul lail yang paripurna.


Terobosan Cemerlang di Zaman Umar bin Khattab

Seiring berjalannya waktu, Rasulullah ﷺ menghentikan Tarawih berjamaah karena khawatir shalat ini akan dianggap wajib oleh umatnya. Tarawih pun dilakukan sendiri-sendiri, hingga tibalah masa Kekhalifahan Umar bin Khattab.

Melihat jamaah yang tercerai-berai di masjid—ada yang shalat sendiri, ada yang bergerombol kecil—Umar menyatukan seluruh jamaah di bawah satu imam: Ubay bin Ka'ab. Menyaksikan kerapian dan kekhusyukan jamaah yang kembali bersatu, Umar melontarkan kalimat yang tercatat dalam sejarah:

"Ni'matul bid'ah hadzihi." (Sebaik-baiknya inovasi adalah ini.)

Di sinilah letak kegeniusan para sahabat. Membaca surah-surah panjang seperti di masa Nabi ﷺ mulai terasa memberatkan bagi generasi setelahnya. Maka agar durasi ibadah malam tetap terjaga tanpa menyiksa fisik jamaah, bacaan ayatnya diperpendek, namun jumlah rakaatnya diperbanyak menjadi 20 rakaat. Inilah yang kemudian disepakati (ijma') oleh para sahabat di masa Umar, Utsman, dan Ali.


Pandangan Mayoritas: 20 Rakaat sebagai Standar Jumhur Ulama

Langkah Umar bin Khattab ini tidak dipandang sebagai penyimpangan, melainkan ijtihad yang sangat dihormati. Imam At-Tirmidzi mencatat bahwa mayoritas ulama—termasuk Imam Ats-Tsauri, Ibnu Al-Mubarak, serta fondasi utama Madzhab Hanafi, Hanbali, dan Syafi'i—berpegang pada 20 rakaat.

Di Indonesia yang mayoritas bermazhab Syafi'i, kita terbiasa dengan 23 rakaat (20 rakaat Tarawih + 3 rakaat Witir). Ini adalah formasi yang telah dipraktikkan turun-temurun sejak era keemasan Islam. Bahkan dalam catatan sejarah, di zaman Umar, Ubay bin Ka'ab sesekali pernah memimpin hingga 33 rakaat, menyesuaikan kondisi dan kemampuan jamaah.


Kompetisi Ibadah Makkah vs Madinah: Lahirnya 36 Rakaat

Jika 23 rakaat sudah terasa banyak, bersiaplah takjub dengan fikih penduduk Madinah di bawah pimpinan Imam Malik. Mereka mempraktikkan 36 rakaat (belum termasuk Witir).

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqalani, mengutip Imam Az-Zarqani, menjelaskan latar belakangnya. Penduduk Makkah memiliki keistimewaan: setiap kali selesai 4 rakaat, mereka melakukan thawaf 7 putaran mengelilingi Ka'bah sebelum melanjutkan rakaat berikutnya. Penduduk Madinah merasa "cemburu" secara spiritual karena tidak memiliki Ka'bah untuk di-thawaf-i.

Sebagai gantinya, mereka mengganti setiap satu sesi thawaf dengan tambahan 4 rakaat shalat. Karena orang Makkah beristirahat 4 kali sambil thawaf, orang Madinah menambah 16 rakaat ke dalam 20 rakaat awal—jadilah totalnya 36 rakaat.


Kesimpulan: Rahasia di Balik Fleksibilitas Angka

Al-Hafizh Ibnu Hajar memberikan rumus yang merangkum semuanya:

"Perbedaan jumlah rakaat tersebut berbanding lurus dengan panjang-pendeknya bacaan. Jika bacaannya sangat panjang, rakaatnya sedikit. Jika bacaannya diperpendek, rakaatnya diperbanyak."

Maka berhentilah saling menyalahkan. Yang shalat 11 rakaat sedang menapaktilasi angka yang dilakukan Rasulullah ﷺ. Yang shalat 23 rakaat sedang menghidupkan ijma' sahabat dan Jumhur Ulama, sebuah inovasi indah peninggalan Umar bin Khattab.

Esensi Tarawih bukanlah kompetisi angka, melainkan siapa yang paling khusyuk berdiri di hadapan Tuhannya saat mayoritas manusia tertidur lelap.

Wallahu a'lam bish-shawab.


Referensi

  1. Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih Al-Bukhari. Kitab Shalat At-Tarawih. Hadits Aisyah radhiyallahu 'anha.
  2. Ibnu Hibban, Muhammad. Shahih Ibnu Hibban. Riwayat Jabir tentang 8 rakaat Tarawih bersama Nabi ﷺ.
  3. Ibnu Khuzaimah, Muhammad. Shahih Ibnu Khuzaimah. Bab Qiyam Ramadhan.
  4. At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Sunan At-Tirmidzi. Bab Ma Ja'a fi Qiyam Syahr Ramadhan.
  5. Al-Bayhaqi, Ahmad bin Husain. As-Sunan Al-Kubra. Bab ma Yustadall bihi 'ala anna Al-Witr Tsalats Raka'at.
  6. Ibnu Hajar Al-'Asqalani, Ahmad. Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari. Bab Fadhl Man Qama Ramadhan.
  7. Az-Zarqani, Muhammad Abdul Baqi. Syarh Al-Muwaththa'. Pembahasan Shalat Tarawih penduduk Madinah.
  8. Malik bin Anas. Al-Muwaththa'. Kitab Shalat Al-Lail.
  9. Syekh 'Athiyyah Shaqar. Fatawa Al-Azhar. Pembahasan Jumlah Rakaat Tarawih. (Fatwa resmi Lembaga Fatwa Al-Azhar Asy-Syarif, Kairo)
  10. An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab. Jilid 4. Bab Shalat At-Tarawih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NABI MUHAMMAD SAJA MASIH BERSYUKUR LEWAT SHALATNYA

 Ketika Manusia yang Sudah Dijamin Surga Memilih Berdiri Hingga Kakinya Bengkak—Lalu Atas Dasar Apa Kita Beribadah Hanya Saat Butuh? Seorang...