Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia yang tumbuh dalam tradisi pendidikan Islam, pesantren, madrasah, hingga ruang-ruang kuliah di Universitas Al-Azhar, Kairo, menghafalkan 20 Sifat Wajib bagi Allah SWT adalah ingatan kolektif yang tak terpisahkan.
Di tingkat dasar, kita diajarkan melantunkan bait-bait Matn 'Aqīdatul 'Awām karya Syekh Ahmad al-Marzuqi:
فَالْوَاجِبُ لِلَّهِ عِشْرُونَ صِفَهْ ... تَعَالَى اللَّهُ عَنْ نَقْصٍ ثَبَتْ
"Fāl-wājibu lillāhi 'isyrūna ṣifah ... Ta'ālāllāhu 'an naqṣin ṡabat"
(Maka wajib bagi Allah ada 20 sifat ... Maha Tinggi Allah dari segala kekurangan yang dipastikan ada).
Sementara di tingkat perguruan tinggi Islam seperti Universitas Al-Azhar, para mahasiswa mendalami teks teologi yang lebih komprehensif, yaitu Matn Jauharatut Tauḥīd karya Imam Ibrahim al-Laqqani. Dalam bait puncaknya mengenai argumen logis keberadaan Pencipta, beliau menegaskan:
فَكُلُّ مَا أَعْذَبَ عَنِ الْحُدُوثِ ... فَهُوَ إِلَى صَانِعِهِ مُحْتَاجُ
"Fa kullu mā 'a'dzaba 'anil-ḥudūṡi ... Fa huwa ilā ṣāni'ihi muḥtāj"
(Maka setiap hal yang keluar dari batas ketiadaan/baru, secara logis ia pasti membutuhkan Sang Pencipta).
Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: Mengapa angka 20? Mengapa bukan 10, 50, atau 100? Dan bagaimana sejarah di balik terumuskannya mazhab Asy’ariyyah serta Maturidiyyah hingga menjadi pilar utama Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja)?
1. Konteks Sejarah: Gelombang Filsafat dan Lahirnya Asy’ariyyah-Maturidiyyah
Pada abad ke-3 dan ke-4 Hijriah, dunia Islam mengalami gelombang penerjemahan besar-besaran terhadap karya-karya filsafat Yunani Klasik—mulai dari logika Aristoteles hingga pemikiran Platon (sebagaimana dicatat dalam studi sejarah filsafat Yunani oleh A. Setyo Wibowo, Pengantar Sejarah Filsafat Yunani: Platon, Salihara, 2016, hlm. 1–3)
Pada masa itu, muncul dua arus pemikiran teologis yang berada di titik ekstrem:
Kaum Mu’tazilah: Memaksimalkan logika dan rasionalitas filsafat hingga dalam beberapa kesimpulan cenderung menafikan (ta'thil) sifat-sifat Allah karena khawatir terjebak pada pengagungan materi.
Kaum Mujassimah/Musyabbihah: Terlalu tekstualis dan harfiah (dhahiri) hingga memvisualisasikan Allah serupa dengan makhluk (anthropomorfisme).
Di tengah polarisasi tersebut, muncul dua tokoh teolog jenius yang merumuskan narasi pertengahan (tawasuth):
Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari (260–324 H / 874–936 M) di Irak: Beliau menggunakan perangkat logika dan dialektika rasional untuk membela teks-teks Al-Qur'an dan Sunnah.
Imam Abu Mansur al-Maturidi (238–333 H / 853–944 M) di Samarkand: Bekerja secara independen dari Imam al-Asy’ari, Imam al-Maturidi merumuskan pendekatan teologis yang menekankan peranan akal sebagai alat untuk mengonfirmasi kebenaran wahyu (at-Tawhid).
Gabungan dari dua arus pemikiran inilah yang kemudian disepakati oleh mayoritas ulama (jumhur) sebagai fondasi utama Ahlussunnah wal Jama’ah.
2. Mengapa Dikerucutkan Menjadi 20 Sifat Wajib?
Sering kali timbul salah paham bahwa kelompok Asy’ariyyah membatasi sifat Allah hanya ada 20. Padahal, para ulama Aswaja sepakat bahwa sifat kesempurnaan Allah itu tidak terbatas.
Sebagaimana ditegaskan dalam Jauharatut Tauhid:
وَصَحَّ إِسْنَادُ الصِّفَاتِ لِلَّهِ ... مِنْ غَيْرِ كَيْفٍ وَلاَ تَشْبِيهٍ ثَبَتْ
"Wa ṣaḥḥa isnādūṣ-ṣifāti lillāhi ... Min ghairi kaifin wa lā tasybīhin ṡabat"
(Dan sah memandangkan sifat-sifat bagi Allah, tanpa menanyakan 'bagaimana bentuknya' dan tanpa penyerupaan dengan makhluk).
Sistematika 20 Sifat Wajib ini dirancang oleh Imam Abu Abdillah Muhammad ibn Yusuf al-Sanusi (w. 895 H) dalam karya agungnya, Umm al-Barāhīn (atau al-'Aqīdah al-Sanūsiyyah). Angka 20 ini dirancang sebagai metodologi pedagogis minimal (fardhu 'ain) yang wajib diketahui oleh seorang mukallaf agar akidahnya terhindar dari kesesatan berpikir secara rasional maupun doktrinal.
[ 20 SIFAT WAJIB ALLAH ]
│
┌──────────────────────┬────────┴──────────────┬──────────────────────┐
│ │ │ │
[1. Nafsiyah] [2. Salbiyah] [3. Ma’ani] [4. Ma’nawiyah]
(1 Sifat) (5 Sifat) (7 Sifat) (7 Sifat)
│ │ │ │
• Wujud • Qidam • Qudrat • Qadiran
• Baqa’ • Iradat • Muridan
• Mukhalafatu... • Ilmu • Aliman
• Qiyamuhu... • Hayat • Hayyan
• Wahdaniyah • Sama’ • Sami'an
• Bashar • Bashiran
• Kalam • Mutakalliman
3. Bedah Anatomi, Teks Arab, & Argumentasi Logika 4 Kategori Sifat
Mari kita bedah logika teologis di balik pembagian 4 kelompok sifat ini beserta teks matn-nya:
A. Sifat Nafsiyah (Hanya 1 Sifat: Wujud)
Definisi: Sifat yang berhubungan langsung dengan keberadaan Zat Allah itu sendiri.
Matn & Dalil: Dalam Aqidatul Awam disebutkan:
فَالْوُجُودُ وَالْقِدَمُ وَالْبَقَاءُ ... وَالْمُخَالَفَةُ لِلْخَلْقِ بِالْإِطْلَاقِ
Argumentasi Logika: Wujud (Ada). Keberadaan Allah bersifat Wajib al-Wujud (wajib adanya secara akal). Berbeda dengan alam semesta yang bersifat Ja'iz (boleh ada, boleh tidak ada). Logika kosmologis menunjukkan bahwa sesuatu yang baru (huduts) mustahil ada tanpa adanya Pencipta (Muhdits).
B. Sifat Salbiyah (5 Sifat)
Definisi: Sifat-sifat yang berfungsi untuk menolak/menafikan (salb) seluruh anggapan kekurangan atau sifat materi yang tidak layak bagi Allah SWT.
Landasan Al-Qur'an: Dalil utama sifat Mukhalafatu lil Hawaditsi tercantum dalam Surah Asy-Syura ayat 11:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
"Laisa kamitslihi syai'un wa huwas-samī'ul-baṣīr"
(Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat).
Rincian: Qidam (Maha Terdahulu), Baqa’ (Maha Kekal), Mukhalafatu lil Hawaditsi (Berbeda dari Makhluk), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri Sendiri), dan Wahdaniyah (Maha Esa).
C. Sifat Ma’ani (7 Sifat)
Definisi: Sifat-sifat kualitatif yang melekat secara nyata (ma'ani) pada zat Allah.
Matn Jauharatut Tauhid:
لَهُ قُدْرَةٌ إِرَادَةٌ وَعِلْمُ ... حَيَاةٌ سَمْعٌ بَصَرٌ كَلَامُ
"Lahū qudratun irādatun wa 'ilmu ... Ḥayātun sam'un baṣarun kalāmu"
(Bagi-Nya Sifat Kuasa, Berkehendak, Mengetahui, Hidup, Mendengar, Melihat, dan Berbicara).
Rincian: Qudrat (Kuasa), Iradat (Berkehendak), Ilmu (Mengetahui), Hayat (Hidup), Sama’ (Mendengar), Bashar (Melihat), dan Kalam (Berbicara tanpa suara & huruf).
D. Sifat Ma’nawiyah (7 Sifat)
Definisi: Sifat yang merupakan keniscayaan logis (mulazimah) dari hadirnya Sifat Ma’ani pada Zat Allah.
Rincian: Qadiran, Muridan, 'Aliman, Hayyan, Sami'an, Bashiran, dan Mutakalliman.
4. Relevansi Masa Kini: Mengapa Teologi Kalam Tetap Krusial?
Di era modern yang dipenuhi oleh serbuan sekularisme dan relativisme, kerangka teologi Asy’ariyyah dan Maturidiyyah memberikan tiga fondasi krusial:
Memijakkan Iman pada Kerangka Rasional yang Kokoh: Agama dalam Islam tidak membenturkan iman dengan akal sehat ('Aql dan Naql berjalan seiring).
Mencegah Ekstremisme Agama: Paham Asy’ari-Maturidi mengajarkan Moderasi Beragama (Wasathiyah), menghindari sikap gampang mengafirkan (takfir).
Membangun Kerendahan Hati Intelektual: Melalui pemahaman sifat Mukhalafatu lil Hawaditsi, kita disadarkan bahwa keterbatasan akal manusia tidak akan pernah mampu merengkuh keseluruhan Hakikat Zat Allah.
Referensi & Literasi Bacaan Lanjutan
Al-Laqqani, Ibrahim. Matn Jauharatut Tauḥīd. (Teks standar teologi Asy'ariyyah yang menjadi kurikulum utama di Universitas Al-Azhar, Kairo).
Al-Marzuqi, Ahmad. Matn 'Aqīdatul 'Awām. (Teks nazham tauhid ringkas yang populer di pondok pesantren dan madrasah).
Al-Sanusi, Abu Abdillah Muhammad ibn Yusuf. Umm al-Barāhīn (Matn al-Sanūsiyyah). (Kitab rujukan utama perumusan 20 sifat Wajib).
Al-Asy'ari, Abu al-Hasan. Maqālāt al-Islāmiyyīn wa Ikhtilāf al-Muṣallīn. (Dokumentasi sejarah sekte-sekte teologi awal Islam).
Wibowo, A. Setyo. (2016). Pengantar Sejarah Filsafat Yunani: Platon. Makalah Kelas Filsafat, Komunitas Salihara, Jakarta
. (Menguraikan latar belakang masuknya filsafat Yunani Klasik ke dunia Islam) .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar