Oleh: Alvaro Mellinio Prathama, Lc.
Dalam cakrawala Sirah Nabawiyah, tidak ada episode yang memantik dialektika antara iman dan akal sekuat peristiwa Isra' Mi'raj. Peristiwa ini bukan sekadar narasi perpindahan lokasi, melainkan sebuah manifestasi agung dari grand design Allah ﷻ untuk memuliakan kekasih-Nya, Rasulullah ﷺ, di tengah masa-masa paling sulit dalam hidup beliau.
Untuk memahaminya secara mendalam, kita harus merujuk pada karya otoritatif para ulama, seperti Al-Ibtihaj bi al-Kalam 'ala al-Isra' wa al-Mi'raj karya Syekh al-Islam Najmuddin al-Ghaithi dan As-Siraj al-Wahhaj fi Izdawaj al-Mi'raj karya Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi.
I. Konteks "Am al-Huzn": Menjawab Duka dengan Keajaiban
Peristiwa ini tidak terjadi di ruang hampa. Ia adalah jawaban Ilahi atas rentetan ujian berat yang menimpa Rasulullah ﷺ pada tahun yang dikenal sebagai 'Am al-Huzn (Tahun Kesedihan). Wafatnya Khadijah binti Khuwailid—pendukung utama dakwah—dan Abu Thalib—pelindung fisik beliau—diikuti dengan penolakan keras penduduk Thaif, membuat beban dakwah terasa begitu menyesakkan.
Dalam kondisi inilah Allah ﷻ menjemput kekasih-Nya untuk melakukan perjalanan melampaui batas ruang dan waktu. Perjalanan ini dimulai dengan Isra’, yaitu perjalanan horizontal dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (sejauh kurang lebih 767 mil), dilanjutkan dengan Mi’raj, perjalanan vertikal menuju langit tertinggi.
II. Ujian Keimanan dan Respon Kaum Quraisy
Saat Rasulullah ﷺ menceritakan peristiwa ini kepada penduduk Makkah, kaum musyrikin—di bawah provokasi Abu Jahal dan Abu Sufyan—menjadikannya bahan olokan. Mereka bahkan mengumpulkan orang-orang di Bukit Abi Quwaisyah untuk mencemooh Nabi ﷺ, dengan harapan pengikut beliau akan bimbang dan meninggalkan iman.
Di sinilah kita melihat keteguhan iman yang luar biasa dari Abu Bakar ash-Shiddiq. Ketika ditantang oleh kaum kafir, beliau menjawab dengan kepastian mutlak: "Jika beliau yang mengatakannya, maka itu pasti benar.". Sikap ini menempatkan beliau sebagai manusia paling afdhal setelah para nabi.
III. Anatomi Perjalanan: Dari Buraq hingga Sidratul Muntaha
Dalam kitab-kitab hadis primer seperti Shahih Bukhari (No. 327) dan Shahih Muslim (No. 164), dijelaskan bahwa sebelum Mi'raj, dada Rasulullah ﷺ dibedah (syarh ash-shadr) untuk disucikan hatinya dengan iman dan hikmah.
Kendaraan Buraq: Digambarkan sebagai hewan yang kecepatannya setara dengan jangkauan pandangan mata; lebih besar dari keledai namun lebih kecil dari bagal.
Imam Para Nabi: Setibanya di Masjidil Aqsa, Rasulullah ﷺ didaulat menjadi imam shalat bagi para nabi terdahulu, sebuah simbol pengakuan universal atas risalah beliau.
Lintasan Langit Tujuh:
Langit ke-1: Bertemu Nabi Adam AS.
Langit ke-2: Bertemu Nabi Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakaria AS.
Langit ke-3: Bertemu Nabi Yusuf AS, yang dianugerahi separuh kegagahan dunia.
Langit ke-4: Bertemu Nabi Idris AS, yang diangkat martabatnya oleh Allah ﷻ.
Langit ke-5: Bertemu Nabi Harun AS.
Langit ke-6: Bertemu Nabi Musa AS, di mana mereka berdiskusi tentang kewajiban shalat.
Langit ke-7: Bertemu Nabi Ibrahim AS di depan Baitul Ma'mur, tempat bernaungnya 70.000 malaikat setiap harinya.
IV. Puncak Dialog dan Oleh-Oleh Ilahiah
Puncak dari perjalanan ini adalah Sidratul Muntaha, tempat di mana ilmu manusia menemui batasnya. Di sinilah Rasulullah ﷺ menerima perintah shalat lima waktu secara langsung dari Allah ﷻ tanpa perantara Jibril.
Proses negosiasi pengurangan waktu shalat dari 50 menjadi 5 kali sehari merupakan bentuk takhfif (keringanan) dan kasih sayang Allah ﷻ kepada umat ini. Meski jumlahnya hanya lima, pahalanya tetap bernilai lima puluh, sebab satu kebaikan di sisi-Nya dilipatgandakan sepuluh kali lipat.
Refleksi bagi Kita Hari Ini
Bagi kita umat Islam, Isra' Mi'raj adalah pengingat bahwa setiap kesabaran dalam menjalani kehidupan dan dakwah pasti akan menemui titik "perjumpaan" dengan Allah ﷻ. Salat bukan sekadar ritual harian, melainkan Mi'raj-nya orang mukmin—sebuah kesempatan emas untuk "naik" ke langit dan bermunajat langsung kepada Sang Pencipta.
Sebagaimana yang pernah kita bahas dalam peristiwa pembelahan dada Nabi, setiap proses spiritual yang berat selalu menyisakan hikmah besar bagi mereka yang mau berfikir. Mari jadikan salat kita sebagai momen refleksi yang sejuk, layaknya ketenangan yang dirasakan Rasulullah ﷺ saat berada di hadapan Tuhannya.
Wallahu A'lam bish-Shawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar